KABARBLORA.ID – Suasana cerah mengiringi pelepasan peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) XV Institut Agama Islam Khozinatul Ulum (IAIKU) Blora, Senin (7/7/2025). Acara yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Blora ini sekaligus menandai Hari Lahir ke-18 IAIKU.
Kegiatan KKN tahun ini mengusung semangat “Sinergi Pendidikan, Ekonomi, dan Desa Berdaya”. Para mahasiswa disiapkan untuk terjun langsung ke tengah masyarakat, membawa semangat pengabdian dan transformasi sosial.
Rektor IAIKU Blora, Ahmad Zaki Fuad, dalam sambutannya berpesan agar mahasiswa menjaga karakter dan akhlak selama menjalankan tugas di desa.
“Pesan saya untuk kalian yang akan berkumpul dan bermuwajjahah dengan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, hidup di tengah masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan.
“Maka dari itu, kalian harus memiliki prinsip yang kuat lebih baik menjadi pribadi yang berperilaku baik daripada hanya sekadar pintar, namun tidak memiliki akhlak,” tegasnya.
Bupati Blora, Arief Rohman, turut hadir dan menyampaikan apresiasinya. Ia menilai keberangkatan mahasiswa KKN hingga ke Malaysia sebagai bukti bahwa kiprah IAIKU tak lagi lokal.
“Saya, mewakili bapak dan ibu kepala desa dari sekitar 10 desa, menyambut baik kedatangan adik-adik mahasiswa KKN,” katanya.
“Kami siap membantu dalam proses pemetaan wilayah serta mendorong terciptanya kerja sama yang saling melengkapi antara kontribusi mahasiswa dan masyarakat desa,” tambahnya.
Lebih lanjut, Bupati berharap kehadiran mahasiswa mampu menggali potensi lokal.
“Syukur-syukur kalau dari kegiatan ini bisa muncul potensi atau produk UKM yang nantinya bisa kita tampilkan dalam pameran saat penutupan KKN nanti,” ujarnya.
Kegiatan KKN tahun ini juga mendapat perhatian dari Bapperida Blora. Ketua Bapperida, Mahbub Djunaidi, menjelaskan bahwa para mahasiswa mendapat tugas khusus: melakukan survei Anak Tidak Sekolah (ATS) di desa-desa lokasi KKN.
“Kegiatan ini bertujuan untuk memetakan kondisi pendidikan anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah, serta mengidentifikasi penyebabnya,” jelasnya.
Mahasiswa akan mengklasifikasikan ATS ke dalam tiga kelompok: anak yang tidak pernah bersekolah, anak yang lulus tapi tidak lanjut pendidikan, dan anak yang putus sekolah di tengah jalan.
“Minimal pendidikan itu sekarang seharusnya sampai SMA atau SMK. Tidak ada lagi alasan untuk tidak sekolah, karena sudah banyak alternatif pendidikan seperti program Paket A, B, dan C,” ungkapnya.












