Blora. KABARBLORA.ID – Di tengah pedesaan Dukuhan Timbun, Desa Kadengan, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, berdiri sebuah kandang ayam dengan populasi mencapai 18 ribu ekor.
Kandang ini milik Supendi, seorang dokter hewan muda yang kini menekuni dunia peternakan ayam potong atau broiler.
Supendi bukan sosok sembarangan. Ia merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair) tahun 2017 dan berasal dari Dukuhan Kaliwader, Desa Ngliron, Kecamatan Randublatung.
Saat ditemui oleh seniornya, drh. Gundala Wejasena, Supendi bercerita bahwa usahanya tidak langsung sebesar sekarang.
“Populasi ternak yang dirintis sekitar tiga tahun yang lalu tidak langsung berjumlah 18.000 ekor tetapi mulai dari sedikit. Sekitar 3.000 sampai 5.000 ekor,” kisahnya.
drh. Gundala mengaku sempat berbincang dengan Supendi mengenai pola kemitraan yang dijalankan.
Ia mengikuti kemitraan, hanya saja ia tidak mau menyampaikan siapa mitranya. Yang jelas dengan mengikuti kemitraan ada beberapa keuntungan yang bisa ia dapatkan.
Kemitraan ayam potong sendiri merupakan sistem kerja sama antara peternak dan perusahaan inti. Dalam model ini, perusahaan menyediakan berbagai fasilitas seperti bibit ayam (DOC), pakan, obat-obatan berkualitas, serta pelatihan teknis. Sebagai gantinya, peternak wajib memelihara ayam sesuai standar perusahaan dan menyerahkan hasil panen untuk dipasarkan oleh pihak mitra.
Supendi mengakui sistem ini memberikan banyak keuntungan, terutama bagi peternak pemula.
“Pertama, akses modal yang mudah peternak pemula dapat memulai usaha ayam potong ini dengan modal awal yang terjangkau yaitu penyiapan kandang anak buah kandang, biaya operasional. Adapun obat-obatan disediakan oleh perusahaan inti dan pembayarannya dilakukan setelah panen,” jelasnya.
“Kedua, keuntungan yang lebih pasti harga jual ayam sudah disepakati di awal sebelum kontrak sehingga peternak tetap mendapatkan harga yang telah disepakati meskipun harga pasar ayam mengalami penurunan ya,” jelasnya.
“Ketiga, Pembagian risiko. risiko finansial dan operasional yang didistribusikan antara peternak dan mitra melindungi peternak dari potensi kerugian yang signifikan ketika menghadapi kondisi sulit,” tambahnya.
Selain itu, kemitraan juga membuat kerja peternak lebih efisien.
“Keempat, efisien dalam waktu dan tenaga. Peternak hanya fokus pada budidaya, bukan memikirkan pengadaan bibit rumah pakan dan obat-obatan, serta penjualan,” ujarnya.
Meski begitu, Supendi menekankan bahwa keuntungan tetap bergantung pada manajemen pemeliharaan.
“Ayam bisa cepat besar dan kematian rendah. Maka ketika terjadi ada beberapa ayam kerdil harus segera ditindaklanjuti supaya tidak boros di dalam pakan. Ayam diambil atau istilahnya culling dan dibunuh. Bisa juga ayam-ayam yang diletakkan di kandang khusus dan dilakukan pemeliharaan secara khusus dengan penambahan vitamin dan lainnya,” ungkapnya.
Menurutnya, pertumbuhan ayam yang kecil memang tidak bisa menyamai yang normal, tapi bukan berarti merugi.
“Jadi di sini berat badan dari ayam saat dijual dikalikan nilai kontrak harus mampu melebihi ongkos produksi yang bahan-bahannya disediakan oleh perusahaan inti. Kalau tidak memang bisa terjadi minus. Maka di sini peran peternak betul-betul diuji, bila dilakukan dengan baik hasilnya bisa melimpah,” tuturnya.
Bagi Supendi, risiko adalah bagian dari usaha.
“Setiap usaha harus ada risikonya, maka manajemen pemeliharaan harus dijaga sehingga pendapatan lebih besar daripada pengeluaran,” katanya.
Ia juga menuturkan bahwa untuk bisa bergabung dalam sistem kemitraan, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Misalnya, kandang close house yang memenuhi standar, populasi ayam minimal 3.000 hingga 5.000 ekor agar penghasilannya bisa setara dengan UMR.
Selain itu, lokasi kandang harus strategis dan mudah diakses.
“Lokasi dekat dengan jalan yang memadai menuju kandang. Lokasi kandang di wilayah kemitraan. Menyediakan berkas rencana hasil produksi pangan tiga periode berturut-turut. Memiliki jaminan berupa sertifikat tanah,” jelasnya.
Tak kalah penting, kata dia, dokumen identitas juga wajib dilengkapi.
“Tentu saja yang tidak kalah pentingnya adalah KTP dan NPWP,” kata Supendi.
Melalui usaha peternakan ayam potong ini, Supendi tak hanya meraih keuntungan pribadi, tapi juga berkontribusi bagi negara lewat pembayaran pajak penghasilan (PPH).












