KABARBLORA.ID – Sebuah pertunjukan tak biasa digelar di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora, Sabtu (9/8/2025) malam. Bukan drama, bukan tari, juga bukan konser musik.
Namun, penonton dibuat larut dalam kisah fiksi sejarah yang membangkitkan imajinasi lewat paduan cerita, musik, akting, dan visual dokumenter.
Adalah Perkumpulan Seni Nusantara Baca yang membawakan pementasan ini. Mereka menyuguhkan cuplikan dari novel Perburuan karya sastrawan legendaris Pramoedya Ananta Toer.
“Bisa dikatakan bukan pertunjukan drama, bukan pula tari, juga bukan pergelaran musik. Bukan sesuatu yang penuh gebyar dan riuh-rendah,” kata Budayawan Blora, Gundala Wejasena yang hadir dan memberikan catatan atas pergelaran tersebut.
Menurut Gundala, pertunjukan berdurasi sekitar 80 menit ini mengandalkan kekuatan narasi dan keaktifan imajinasi penonton.
“Dalam pentas ini didengarkan cerita yang disampaikan oleh pencerita utama yang berlaku seperti dalang dan beberapa pemeran tokoh cerita sebagai wayang-wayangnya,” ucapnya.
Cerita dibacakan dari naskah yang disusun oleh Landung Simatupang, seniman teater asal Yogyakarta sekaligus aktor film. Landung dikenal luas sebagai tokoh yang kuat dalam penyampaian naskah dan interpretasi sastra.
“Sebagian besar dari cerita itu akan dibacakan dari naskah yang disusun oleh Landung Simatupang, seorang tokoh teater Jogja, juga pemain film, kelahiran Jogja sekitar 70 tahun yang lalu,” terang Gundala.
Mengambil latar Blora pada 17 Agustus 1945, kisah ini menyajikan konflik batin dan perjuangan pasca-proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tokoh utamanya adalah Ningsih, seorang gadis muda, serta kekasihnya, Hardo, pemimpin gerakan perlawanan terhadap Jepang.
Ada pula Karmin, teman mereka yang justru memilih bergabung dengan pasukan Jepang sebagai komandan peleton, serta tokoh-tokoh lain seperti Sidokan (perwira Jepang), Dipo, Kartiman, Lurah Kaliwangan (ayah Ningsih), dan lainnya.
“Cerita yang disajikan adalah cerita fiksi, cerita rekaan. Yaitu tentang suatu peristiwa dramatis yang terjadi di Blora ini pada 17 Agustus 1945, tak lama sesudah kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamasikan di Jakarta,” ungkap Gundala.
Tak hanya suara, mata penonton juga dimanjakan. Para pemain tampil dengan akting yang menyatu dengan narasi. Ada elemen tari, serta tayangan gambar dan foto dokumenter di layar sebagai pendukung visual.
“Akan tetapi, karena ini adalah pertunjukan sepanjang sekitar 80 menit, tentu ada pula hal-hal yang bisa ditonton, sebagai konsumsi untuk mata kita,” jelas Gundala.
Musik turut memperkaya suasana. Piano, biola, dan cello menjadi instrumen utama, menggantikan instrumen tradisional. Bahkan ada lagu yang dibawakan dalam alur cerita.
“Untuk membantu menghidupkan suasana cerita, ada pula musik yang menggunakan instrumen berupa piano, biola dan cello. Di samping itu, ada lagu yang dinyanyikan,” tambahnya.
Gundala menyebut bahwa penonton, terutama kalangan muda, diajak menyimak dan menghidupkan cerita lewat imajinasi mereka.
“Tentu penonton yang sebagian kalangan muda diminta menyimak pergelaran ini, mendengarkannya baik-baik lalu mengaktifkan imajinasi masing-masing, menghidupkan kejadian-kejadian yang diceritakan itu dalam angan-angan dan pikiran sendiri-sendiri,” tuturnya.
Setelah pertunjukan usai, sesi diskusi digelar. Respon penonton cukup beragam. Sebagian besar memberikan apresiasi tinggi, terutama karena pertunjukan ini memantik minat untuk membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer secara lebih utuh.
Namun, ada juga yang merasa kurang puas. Mereka menyayangkan hanya sebagian kecil isi novel Perburuan yang ditampilkan. Ada pula kritik atas pilihan musik yang tidak menggunakan gamelan atau alat musik tradisional.
Meski demikian, secara keseluruhan, pertunjukan ini dinilai menarik dan segar. Bahkan Bupati Blora, Arief Rohman, tampak menyimak pementasan ini hingga selesai.
Pagelaran ini merupakan bagian dari Program Kementerian Kebudayaan Indonesia melalui Dana Indonesiana. Dukungan datang dari Rumah Literasi Blora, Bupati Blora, serta Dewan Kebudayaan Blora.
Hadir pula tokoh penting dari dunia riset budaya, yaitu Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Yogaswara.












